Jumat, 21 Juni 2013

Khotbah Jumat


Menurut Sabda Rasulullah SAW, bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi muslimin laki-laki dan perempuan. Hal ini dikarenakan manifestasi kelebihan manusia daripada hewan dan tumbuhan yaitu dikaruniai akal. Akal merupakan unsur paling penting yang dimiliki manusia, sehingga tidak akan dimintai pertanggung jawaban bagi manusia gila (terganggunya akal). 
Didalam Surat Al Mujaadilah ayat 11, yang berarti “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Hikmah dari kita menuntut ilmu, terutama ilmu agama adalah akan dipermudah Allah untuk mencapai derajat taqwa dan mendapatkan kemudahan menuju jalan kebenaran. Pernah Aisyah bertanya kepada Rasulullah Apa yang akan membedakan manusia satu dengan manusia lainnya?? Rasulullah menjawab, ’ilmunya’. Hingga Aisyah bertanya sampai tiga kali, dan Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Aisyah berargumen bahwa telah dijelaskan : derajat manusia di hadapan Allah akan ditentukan kadar taqwanya. Jawab Rasulullah, untuk mencapai derajat taqwa tersebut adalah dengan sarana ilmu.
Dijelaskan pula, Iblis (jin) juga memiliki akal dan mampu menggunakan akalnya untuk mengelabui Adam sehingga terperosok untuk berbuat dosa. Oleh karena itu, pemanfaatan ilmu dan akal manusia dapat dibagi menjadi dua. Untuk kebaikan atau untuk keburukan.
Kecenderungan manusia sekarang dalam mementingkan ilmu dunia menyebabkan mereka terkena penyakit ubud dunya (kecintaan berlebih kepada dunia). Sebagai solusi untuk mengarahkan pemanfaatan ilmu agar bermanfaat adalah dengan mendalami ilmu agama.
Telah diancamkan didalam Al Quran, bahwa Neraka Jahanam itu akan diisi dari golongan jin dan manusia. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jin memiliki akal, sama seperti manusia, sehingga dibebani pertanggung-jawaban atas karunia akal tersebut dalam kehidupan di dunia.
Tindakan mengasah akal dan menuntut ilmu itu bernilai positif apabila mampu meningkatkan derajat taqwanya (menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya).

Kamis, 20 Juni 2013

Kyai Quwait

Kitab Hikam: Hakikat Doa Kepada Allah.

Doa merupakan sarana kita memohon kepada Sang Kholiq. Di sengaja atau tidak, pasti kita memerlukan pertolongan kepada yang Maha Segalanya, ketika sudah tidak ada lagi yang dapat membantu kita. Bisa dari segi kemampuannya yang terbatas, atau memang karena sifat manusia yang rela membantu karena pamrih.
Media untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa adalah melalui doa. Doa yang kita panjatkan bukanlah merupakan suatu tuntutan yang harus diwujudkan oleh Allah SWT.

Selasa, 11 Juni 2013

Islam Iman dan Iksan

disampaikan oleh : Kyai Rofiq

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW ditanya oleh seseorang (yang ternyata adalah Malaikat Jibril) mengenai Islam Iman dan Iksan. Pertanyaan ini adalah sebagai pengajaran kepada para sahabat kala itu.
Nabi menjawab tentang Islam adalah menurut rukun Islam yang lima (syahadat, salat, zakat, puasa dan haji).
Iman adalah menurut rukun Iman yang enam. Sedangkan Iksan adalah tatacara ibadah seolah kita melihat Allah, namun apabila tidak mampu maka seolah-olah Allah-lah yang melikat kita.
Seperti buah, ketiga unsur tersebut dapat diibaratkan seperti kulit, buah dan rasa. Yang mana ketiganya tak boleh terpisahkan. Apabila hilang dua yang pertama maka dapat diduga orang tersebut kafir. Sedangkan orang yang beranggapan dari iman saja (kebatinan) maka dapat diartikan sebagai kafir zindiq. Apabila belum iksan akan mengakibatkan kurangnya nilai dalam beribadah.
Mengenai syahadat, dapat diperinci kedalam tiga unsur yaitu diucap, disadari dan dipahami. Pemahaman akan arti penting syahadat akan membawa pelakunya melaksanakan konsekuensi pengucapannya, yaitu bertujuan hidup untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti segala sunah Rasulullah.
Didalam kitab Hikam, menjelaskan bahwa salat itu dibagi tiga. yaitu Iqomussalat yang berarti menegakkan salat dengan cara mengucapkan (lisan), menghadapkan wajah ke kiblat, dan menundukkan hati untuk tetap bertafakur (berdzikir) kepada Allah SWT.
selanjutnya yang kedua adalah Ijjadussalat (yaitu mewujudkan salat dalam lisan dan wajah), sedangkan yang paling parah adalah  i'damussalat yang berarti meniadakan salat. Sebagai upaya agar mampu kedalam derajat pertama (Iqomussalat) adalah dengan makan makanan yang halal.