Menurut Sabda Rasulullah SAW, bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi muslimin laki-laki dan perempuan. Hal ini dikarenakan manifestasi kelebihan manusia daripada hewan dan tumbuhan yaitu dikaruniai akal. Akal merupakan unsur paling penting yang dimiliki manusia, sehingga tidak akan dimintai pertanggung jawaban bagi manusia gila (terganggunya akal).
Didalam Surat Al Mujaadilah ayat 11, yang berarti “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Hikmah dari kita menuntut ilmu, terutama ilmu agama adalah akan dipermudah Allah untuk mencapai derajat taqwa dan mendapatkan kemudahan menuju jalan kebenaran. Pernah Aisyah bertanya kepada Rasulullah Apa yang akan membedakan manusia satu dengan manusia lainnya?? Rasulullah menjawab, ’ilmunya’. Hingga Aisyah bertanya sampai tiga kali, dan Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Aisyah berargumen bahwa telah dijelaskan : derajat manusia di hadapan Allah akan ditentukan kadar taqwanya. Jawab Rasulullah, untuk mencapai derajat taqwa tersebut adalah dengan sarana ilmu.
Dijelaskan pula, Iblis (jin) juga memiliki akal dan mampu menggunakan akalnya untuk mengelabui Adam sehingga terperosok untuk berbuat dosa. Oleh karena itu, pemanfaatan ilmu dan akal manusia dapat dibagi menjadi dua. Untuk kebaikan atau untuk keburukan.
Kecenderungan manusia sekarang dalam mementingkan ilmu dunia menyebabkan mereka terkena penyakit ubud dunya (kecintaan berlebih kepada dunia). Sebagai solusi untuk mengarahkan pemanfaatan ilmu agar bermanfaat adalah dengan mendalami ilmu agama.
Telah diancamkan didalam Al Quran, bahwa Neraka Jahanam itu akan diisi dari golongan jin dan manusia. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jin memiliki akal, sama seperti manusia, sehingga dibebani pertanggung-jawaban atas karunia akal tersebut dalam kehidupan di dunia.
Tindakan mengasah akal dan menuntut ilmu itu bernilai positif apabila mampu meningkatkan derajat taqwanya (menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
semarat